7 Jenis Cairan Pencuci Luka Aman Sebagai Obat di Apotek

Saat ini di Indonesia sudah banyak macam cairan pencuci luka. Banyak orang tahu bahwa cairan tersebut adalah antiseptik tetapi tidak tahu apa kandungannya. Beberapa cairan pencuci luka yang kita ketahui:

Normal Salin (Nacl)

atau dikenal cairan infus merupakan cairan fisiologis sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang, tidak dapat membunuh kuman karena bukan cairan antiseptik dan tidak beracun pada jaringan granulasi (sehat).

Povidone Iodine

Cairan ini sangat korosif terhadap jaringan granulasi dan bekerja efektif pada kondisi anaerob. Povidone iodine bukan untuk balutan, melainkan digunakan murni sebagai antiseptik sehingga kulit tidak terbakar.

Hydrogen Peroxide (H²O²)

Menurut beberapa referensi tidak dapat membunih kuman, namun gelembung yang dihasilkan dapat mengangkat kotoran dan jaringan mati pada luka. Cairan ini sangat korosif pada jaringan sehat, sehinggal harus berhati-hati dalam penggunaannya.

Baca juga : Hidup Nyaman dengan Diabetes: 12 Cara Terbaik Merawat Luka Diabetes

Sodium Hypochlorite

Dikenal dengan nama baycline, sangat korosif terhadap alat kesehatan.

Revanol

Pasti sudah sering mendengar namanya, bukan? Revanol merupakan jenis cairan yang tidak memiliki antiseptik, namun sangat popular digunakan untuk mencuci luka. Revanol dapat meninggalkan warna kuning pada kulit.

Klorheksidin

Saat ini cairan tersebut sudah menjadi idola karena mampu membunuh kuman, tidak hanya bakteri gram positif atau negatif dan bakteri tahan asam. Cairan ini tidak korosif pada kulit sehat dan tidak meninggalkan warna pada kulit, namun memang lebih mahal harganya.

Air hangat

Mencuci luka dengan air hangat atau air matang dan sabun antiseptik sesuai PH kulit sudah membantu untuk menekan pertumbuhan kuman pada luka. Cara ini yang paling mudah dan murah serta cukup efektif.

Baca juga : 7 Balutan Luka Modern Ampuh yang Wajib Anda Miliki

*Berbagai jenis cairan tersebut harus dipilih secara tepat. Cairan yang dipilih adalah cairan yang lebih efektif digunakan. Hati-hati menggunakan cairan antiseptik pada luka yang tidak neuropati karena akan menimbulkan rasa nyeri dan terbakar.

Referensi:
Arisanty, Irma Puspita. (2013). Konsep dasar manajemen perawatan luka. Jakarta: EGC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *