Penyakit Gula Kering Menular? Bisakah Sembuh?

Penderita diabetes di Indonesia kerap mengkategorikan penyakit gula ke dalam dua jenis, yaitu penyakit gula kering dan penyakit gula basah.
Meskipun keduanya sama-sama ditujukan untuk penyakit diabetes, namun kebanyakan orang mengira bahwa kedua penyakit ini berbeda. Tahukah Anda bahwa istilah diabetes basah dan kering tidak ada di dalam dunia medis. Lalu, apa ada bedanya?

Perbedaan Penyakit Gula Kering dan Basah

Istilah diabetes penyakit gula basah dan penyakit gula kering muncul karena perbedaan kondisi pada penderita yang mengalami diabetes melitus. Istilah lain yang juga sering digunakan dalam masyarakat adalah penyakit kencing manis dan penyakit gula yang sama-sama merujuk pada penyakit diabetes.

Perbedaan kondisi pada penderita diabetes disebabkan oleh perbedaan kadar gula dalam darah setiap penderita. Pada penderita diabetes yang memiliki kadar gula yang lebih rendah, saat ia mengalami luka luar, lukanya akan cepat sembuh dan kering. Kondisi ini disebut diabetes kering.

Bagi penderita yang memiliki kadar gula tinggi, saat ia mengalami luka, luka ini akan susah sembuh. Kondisi inilah yang disebut dengan diabetes basah.
apakah diabetes basah bisa menular karena infeksi luka tersebut? Pada dasarnya diabetes tidak termasuk dalam jenis penyakit menular, baik itu tipe basah atau kering.

Ciri-ciri Luka Diabetes Basah/Kering

Umumnya gejala yang dapat ditemukan diantaranya seperti luka yang sulit sembuh, penurunan rasa/sensasi sehingga luka tidak terasa, terasa kebas pada area kaki dan tungkai, serta ditemukan infeksi atau nanah pada luka yang tak kunjung hilang. Untuk memastikan luka anda adalah berkaitan dengan diabetes atau bukan, anda dapat memeriksa gula darah anda pada dokter untuk mengetahui lebih pasti.

Pada masyarakat umumnya dibedakan antara ciri luka diabetes melitus basah dan diabetes kering. Padahal, menurut medis isitilah diabetes basah dengan luka ataupun luka diabet kering tidak dipergunakan. Tingkatan keparahan atau stage luka yang membedakan antara luka diabetes melitus yang satu dan yang lainnya.

Baca juga : Apakah Luka Diabetes Bisa Sembuh 100%? Berikut Jawabannya.

Faktor Resiko Terjadinya Luka

Setiap penderita diabetes sangatlah beresiko untuk mengalami luka diabetes. Faktor lain yang dapat meningkatkan resiko luka diantaranya ukuran sepatu yang terlalu sempit, malas mencuci kaki, pemotongan kuku yang kurang tepat, merokok, konsumsi alkohol, komplikasi ginjal ataupun jantung. Pencegahan awal luka sangat penting untuk mengurangi komplikasi di kemudian hari.

Baca juga : Perawatan Luka Gangren, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Berikut adalah pertolongan pertama penanganan luka pada penderita diabetes:

  • Bersihkan area luka dari kotoran dengan menggunakan sabun dan air mengalir, secara rutin. Setelah luka bersih, oleskan salep antibiotik pada bagian kaki yang luka. Kemudian tutup luka dengan perban yang steril.
  • Hindari menggunakan obat antiseptik, cairan pembersih luka yang mengandung alkohol, ataupun produk yang berbahan yodium. Produk-produk tersebut justru menyebabkan iritasi pada kulit Anda.
  • Hindari menggunakan sepatu sempit yang membuat kaki Anda tertekan. Tekanan yang berlebihan pada area luka memungkinkan luka bertambah parah.
  • Jaga aliran darah agar tetap lancar, caranya dengan menaikkan kaki dan pertahankan posisi kaki yang lurus agar aliran darah tidak semakin terganggu.
  • Perhatikan selalu tanda-tanda infeksi yang muncul pada luka. Gejala munculnya infeksi bisa berupa rasa sakit, kemerahan, muncul nanah, lokasi luka terasa panas dan bengkak, serta demam.

Perlu diingat, jika luka di bagian kaki tidak sembuh setelah mendapatkan perawatan mandiri, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter, supaya luka tidak semakin memburuk dan menjadi sulit untuk di tangani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *